Kenali jenis-jenis kekerasan dalam berpacaran, pelaku bisa dipidanakan

Kenali jenis-jenis kekerasan dalam berpacaran, pelaku bisa dipidanakan

Kenali jenis-jenis kekerasan dalam berpacaran, pelaku bisa dipidanakan

Kekerasan dalam pacaran marak terjadi. Umumnya korban adalah di pihak perempuan. Sayangnya, tak banyak korban yang berani bicara. Brilio.net berkesempatan ngobrol dengan konsultan lembaga pendampingan perempuan Rifka Annisa Women’s Crisis Center, Indiah Wahyu Andari.

Menurutnya, kekerasan dalam pacaran memiliki banyak bentuk. Seperti kekerasan fisik, psikologis, ekonomis, bahkan ada yang mengalami trafficking. Korban ini diperdagangkan secara seksual. Banyak juga yang mengalami kekerasan seksual, di antaranya pelecehan dan perkosaan.

Kekerasan dalam pacaran ini dapat dipidanakan. Misalnya pasal penganiayaan, perkosaan, penipuan, serta perlindungan anak di bawah umur. Kasus yang sering terjadi adalah kekerasan seksual hingga pemaksaan aborsi. Serta pencemaran nama baik di media sosial dengan motif mengontrol pasangan.

"Sangat banyak korban yang mengalami kekerasan dalam pacaran tapi pelakunya terus menjebak dalam hubungan sehingga kekerasan terus berulang dalam jangka waktu panjang," terangnya saat diwawancarai brilio.net di kantor Rifka Annisa Women’s Crisis Center di Jambon IV, Kompleks Jatimulyo Indah Yogyakarta.

Dampaknya bagi korban tidak ringan. Selain luka fisik, gangguan reproduksi, juga luka batin. Pada beberapa kasus, korbannya adalah pihak laki-laki. Pelaku wanita ini adalah mereka yang dulunya pernah mengalami kekerasan.

"Tapi lingkungan membentuk seseorang menjadi pelaku kekerasan. Untuk mencegah kekerasan, bagaimana laki-laki memiliki kemerdekaan menjadi diri sendiri. Katakanlah dia punya nilai yang dia yakini. Saya ingin berbuat baik pada teman, saya sangat laki-laki. Ketika saya berbuat baik pada pasangan, saya sangat laki-laki," tandasnya.

Lebih lanjut tutur Indiah, laki-laki sebenarnya tidak terlahir sebagai pelaku kekerasan. Akan tetapi bagaimana dia meyakini nilai-nilai dia sebagai laki-laki membuatnya berpotensi berbuat kekerasan. Sebenarnya laki-laki punya kemerdekaan untuk menjadi dirinya sendiri.

Hubungan yang sehat adalah yang memosisikan setara kedua pihak. Pasangan perlu membuat kesepakatan yang harus dipatuhi bersama. Serta memikirkan konsekuensi bersama dari setiap pilihan yang diambil.

(brl/red)