Mengintip cerita & proses pembuatan film kolosal Sultan Agung

Mengintip cerita & proses pembuatan film kolosal Sultan Agung

Mengintip cerita & proses pembuatan film kolosal Sultan Agung

donnalongpiano.com - Kamis (8/3), kru film garapan Hanung Bramantyo sibuk mempersiapkan sebuah scene sinema biografi berjudul Sultan Agung. Mereka melakukan pengambilan gambar di sebuah desa wisata yang terletak di barat kota Yogyakarta yakni Gamplong. Untuk mencapai desa nan asri ini, diperlukan waktu kurang lebih 40-60 menit perjalanan darat dari kota Yogyakarta.

Pagi hari sekali tepat sekitar pukul 09.00 WIB, para kru mempersiapkan diri. Ada yang mulai menata set film. Beberapa figuran pun mempersiapkan tenaga dengan sarapan pagi. Untuk membuat film ini, dikerahkan ratusan kru film.

"Per hari tuh sama pemain dan figuran  250 an lah," jelas Aziz, salah satu kru film saat ditanya mengenai orang yang terlibat dalam pembuatan film ini.

Beberapa kru lalu lalang di sekitar studio alam tempat syuting film. Di sebuah tanah lapangan desa Sumberayu padukuhan Gamplong, berdiri studio alam yang dijuluki mini Hollywood atau studio Gamplong. Di atas tanah seluas 2,1 hektar tersebut berdiri bangunan tiruan abad 16-17, yang menggambarkan desa Mataram masa lampau.

Sekitar pukul 10.00 WIB, sutradara film ini yakni Hanung Bramantyo tiba di lokasi syuting. Ia yang datang dengan celana pendek, sandal dan kaos oblong menyapa rekan-rekan media. Sambil menyeruput kopi hitam, Hanung memperkenalkan studio buatannya dan menceritakan tentang film Sultan Agung yang tengah ia garap.

Film Sultan Agung bukanlah film biografi pertama garapan sutradara dari kota Gudeg ini. Ia sudah menggarap banyak film biografi, diawali dengan film Sang Pencerah yang rilis pada tahun 2010. Berbeda dari film biografi lain garapannya, film Sultan Agung ini merupakan proyek besar bos Mustika Ratu, Mooryati Soedibyo, yang menggandengnya membuat karya ini.

"Ini karya beliau setelah menjalani bisnis dan berpolitik. Mirip Sultan Agung, beliau (Mooeryati Soedibyo) sebelum akhir hayatnya ingin membuat karya," jelas Hanung Bramantyo.

Film yang menceritakan tentang sosok pahlawan ini idenya sudah direncanakan oleh Mooryati Soedibyo tiga tahun lalu. Hanung mengaku, langsung menerima tawaran ibu Mooryati Soedibyo saat ia diajak menggarap film ini. Karena menceritakan kisah pahlawan yang sangat berpengaruh, Hanung mengaku sangat total mengerahkan tenaga untuk menggarap film ini.

Biaya yang dikeluarkan untuk menggarap film ini sangat fantastis. "Budget film ini sebenarnya Rp 15 M belum termasuk pajak, tambahan dari saya pribadi Rp 2,5 M," jelas Hanung.

Pembangunan studio alam ini juga penuh totalitas. Studio yang super besar tersebut sengaja dibangun oleh Hanung Bramantyo dan kru dibantu langsung oleh warga padukuhan Gamplong. Kini sudah setengah tahun lamanya studio tersebut berdiri.

Hanung tidak sekali saja membangun sebuah studio. Dalam beberapa filmnya, ia sudah membangun beberapa studio meskipun tak sebesar studio alam Gamplong.

"Saya membuat film biografi bukan sekali, sejak Sang Pencerah. Dari Sang Pencerah saya sudah membangun langgarnya Kyai Dahlan. Kita tidak bisa menggunakan bangunan yang ada karena akan merusak situs itu," jelas Hanung saat ditanya alasanya membangun studio.

Gamplong dipilih sebagai tempat membangun studio ini karena dirasa paling layak. Sebelumnya Hanung telah melakukan riset tempat mendalam.

"Pertama saya cari tempat di Bantul, Kaliurang, Gunung Kidul, semua tempat sudah saya cari. Nggak tau kenapa saat di sini lancar saja. Saya nyari ini dari awal tahun, Januari 2017," jelas Hanung.

Hanung Bramantyo pun menggandeng desainer handal Allan Sebastian untuk merancang studio ini. Khusus bagian pendopo studio, dirancang oleh seorang warga desa Dlingo, Pak Nuri. Desa Dlingo sendiri merupakan desa yang kayunya dipakai membuat keraton dan pendopo pada masa silam.

Totalitas pembuatan film Sultan Agung tidak sampai di sini. Suami Zaskia Adya Mecca itu juga melakukan riset sejarah mendalam untuk memahami kisah hidup Sultan Agung.

"Soal data sejarah kami melakukan data riset bahkan memadukan sejarawan dari Solo, Jogja dan independen. Dan saya melakukan diskusi baik dalam satu ruangan atau terpisah," jelas Hanung.

Kendati demikian, film Sultan Agung pun sempat mendapat kritik. Kain batik yang digunakan Sultan Agung dianggap kurang tepat karena bermotif parang kecil.

Mengenai kejadian ini, Hanung memberikan penjelasan. Menurut Hanung, Sultan Agung baru membuat batik parang setelah dinobatkan dan setelah melewati fase menjadi budayawan.

"Sultan Agung memang membuat parang, tapi adegan yang ada di foto kemarin saat beliau dinobatkan. Kalau menurut asumsi saya beliau membuat parang setelah fase berkebudayaan, artinya setelah perang Batavia," jelas Hanung.  

Namun Hanung dengan senang hati menerima berbagai kritik. Baginya hal tersebut dapat menjadi masukan agar ia bisa berkarya lebih baik lagi.

Walau mendapat beberapa kritik, Hanung dan kru tetap melanjutkan proses pembuatan film. Kamis (8/3) sekitar pukul 12.00 WIB, Hanung dan krew melakuakan take adegan jumenengan.

Para artis pun yang terlibat pun dengan serius mempersiapkan diri untuk akting. Tampak kesibukan para kru mempersiapkan lampu, kamera, membenahi makeup artis dan sibuk dengan berbagai kegiatan lainnya.

Hanung pun dengan santai menyapa para kru. Sesekali ia ngobrol bersama cameraman dan tertawa. Tampak proses syuting film Sultan Agung berjalan santai tapi serius.